Benar kata orang, selewat usia 20 tahun waktu akan terasa lebih cepat. Sudah hampir separuh jalan meninggalkan usia kepala 2, rasanya saya belum menghasilkan apa-apa.
Berteman dengan banyak orang hebat, selain memberikan motivasi kadang juga menjadi bumerang yang membuat saya rendah diri. Apa pencapaian terbesar saya hingga saat ini? Apa yang telah saya berikan pada lingkungan sekitar? Apa yang akan saya lakukan selanjutnya?
Bukannya tidak memiliki tujuan hidup, saya hanya bingung jalan menuju ke sana. Saya sangat mengerti apa yang saya ingin lakukan, tapi saya tidak tahu bagaimana tindak lanjutnya.

Pengamen oh pengamen

Pengamen (yang benar) bagi saya merupakan penggiat seni yang menghibur. Saya lebih memilih memberi uang pada pengamen dibanding pada pengemis karena setidaknya pengamen memberikan sesuatu, yaitu “usaha” mereka untuk menghibur.
Beberapa waktu lalu, ada pengamen menghampiri angkutan yang saya naiki. Seusai bernyanyi, dia menadahkan tangan ke penjuru mobil, meminta imbalan atas nyanyiannya. Hanya satu orang yang memberinya uang. 500 rupiah. Tahu apa yang dilakukan si pengamen dengan uang pemberian itu? Dia melemparkannya ke penumpang lain sembari berceletuk “tuh, saya tambahin untuk bayar angkot.”
Saya tidak habis pikir betapa 500 rupiah kini tidak bernilai di hadapan seorang pengamen. Padahal, jaman saya SD dulu 500 rupiah sudah bisa dipakai untuk membayar angkot bolak-balik. Atau untuk dibelikan permen 10 bungkus.
Saya mengerti ada perubahan nilai karena inflasi dan sebagainya, tapi apa si pengamen tidak mempertimbangkan 500 rupiah itu bisa jadi 5000 andai dia bersabar dan terus berusaha mendapatkan pemberian dari 19 orang lainnya. Kalau saja dia berhenti mengeluh dan misuh-misuh, barangkali ada penumpang lain yang berbaik hati menyumbang juga, kan?
Di atas segalanya, hal yang paling fatal dari sikapnya adalah tidak tahu terima kasih. Bagaimanapun, 500 rupiah itu tetap pemberian orang lain. Apa salahnya memperlihatkan rasa terima kasih dan syukur atas berapapun hasil yang diterima tanpa menggerutu di depan sang pemberi?
Hal lain yang saya sayangkan dari para pengamen adalah kalimat yang seringkali mereka ucapkan: “daripada kami mencopet, lebih baik kami mengamen.” Apakah dengan begitu mencopet itu halal jika mereka tidak bisa mengamen? Pantas saja perilaku mereka seperti itu. Wong mencopet saja dijadikan opsi untuk mencari nafkah. Lucu sekali, mengingat lirik lagu mereka yang sering menyindir pemerintahan indonesia yang korup padahal mereka sendiri menghalalkan pencopetan. Saya akan lebih senang kalau pernyataan mereka diganti jadi “lebih baik kami mengamen daripada mengemis.” Lebih sopan dan bermartabat.
Barangkali ada yang membatin; apa sih yang bisa diharapkan dari pengamen, namanya pengamen yang berasal dari kelas bawah ya perilakunya mayoritas jauh dari etika dan tata krama. Tapi justru karena itu. Lagi, mengamen (bagi saya) seharusnya adalah kegiatan bermusik yang menghibur, bukan sekedar bernyanyi lalu memaksa diberi imbalan.
Pada akhirnya semua memang kembali lagi pada edukasi. Mungkin naif kalau mengharapkan dunia yang isinya serba baik, tapi sebisa mungkin, tidak perlu lah itu anak-anak kecil dieksploitasi. Pun pemuda-pemuda berpenampilan tidak karuan yang memegang rokok dan bir sambil nongkrong di pinggir jalan untuk mencegat angkutan yang lewat dan bernyanyi ala kadarnya sambil mengharap diberi banyak uang. Pengamen bisa jadi pilihan profesi, tapi bukan untuk mereka yang (masih) demikian.

Gantungkanlah cita-cita setinggi langit. Tapi harapan, cukup taruh di langit-langit kamar saja. Biar kalau jatuh, masih ada kasur yang menampung.
Me - at the time I feel like giving up and leaving all of my dreams is the best option
To Tumblr, Love Pixel Union